Terjebak lagi nonton tayangan kabar selebritas (orang (sok) pintar menyebutnya infotainment). Ada artis (keartisan aktingnya tidak seberapa) menggugat cerai pasangannya. “Kami berbeda prinsip,” kira-kira begitulah yang meluncur dari mulut si pesohor.
Prinsip? Masihkah kata itu berlaku di dunia yang sama-sama kita akui tidak lagi hitam putih ini? Di dunia yang semakin miskin oposisi biner ini? Di dunia dimana Eminem saja bernyanyi bersama Elton John?
Harap maklum, prinsip ini lebih sering bersifat diplomatis, daripada penjelasan yang jelas, lugas dan ‘prinsipil’ tentang prinsip yang dimaksud. Perkara prinsip, jadi terngiang lagu Grow Old With You. Sampai sekarang penilaianku belum berubah, ini lagu paling romantis yang pernah diciptakan. Adam Sandler memang menyanyikannya seperti kurang semangat dan niat.
Romantisnya bukan terletak pada janji yang maha dahsyat dari seorang kekasih. Tapi janji-janji sederhana seperti, I’ll need you/I’ll feed you/Even let ya hold the remote control. Berbagi remote control bukan hal yang mudah, bagi pasangan suami istri sekalipun (karena itu banyak rumah memiliki tv lebih dari satu. Tapi mungkin ini tidak terjadi di negeri tiran yang saluran televisinya cuma satu).
Kalau dipikir menikah cukup bernuansa horor. Berbagi lemari baju dengan orang lain jelas bukan komedi romantis apalagi komedi situasi. Loh, kalau susah, lemari bajunya terpisah saja! Tapi kata pastor: “Kalian tidak lagi dua, tetapi satu. Lemari kalian tidak tidak lagi dua, tetapi satu” =)
Ayat tadi menjadi sebuah peneguhan akan rumitnya piramida sebuah sistem pernikahan. Dari sebuah sistem yang prinsipil tentang sebuah ‘kesatuan’ suami-istri menjadi sebuah sistem kamar dengan sebuah lemari baju demi terwujudnya sebuah sistem efisiensi ruang. Karena itulah Steven R Covey menulis buku Seven Habits for Highly Effective Families, bukan Seven Habits for Highly Effective Marriage atau Seven Habits for Highly Efficient Marriage (karena Bung Covey pasti mengakui pernikahan itu sendiri sudah tidak efisien).
Pernikahan sebagai suatu sistem sosial melahirkan begitu banyak sistem-sistem kecil, yang kerap tak terperhatikan. Seperti sistem yang kusebut mandi-pergi di rumah orang tuaku. Bapakku, seorang yang tenang dan tak pernah tergesa melakukan apa saja. Tapi kalau akan keluar rumah bersama, dia akan selalu berupaya untuk selesai mandi paling dulu dari semua orang.
Setelah rapi dia akan menunggu di luar rumah sampai yang lain selesai. Pernah kutanya alasannya (karena mencurigai kebiasaan itu agar dia punya alasan untuk menyalahkan yang lain kalau terlambat tiba di tujuan). “Bapak berpinsip, kepemimpinan itu ditunjukkan dengan paling duluan siap berangkat, dari yang lain.” Kutanya lagi, kan tidak ada yang hancur kalau ‘prinsip’ itu tidak berjalan? “Seperti janji, yang namanya prinsip harus dipenuhi,” kata bapak.
Dan aku baru saja berjanji, akan membuat 33 piercing di seluruh tubuh, kalau tersiar kabar ada artis meninggalkan pasangannya perkara remote control tv. Ini janji, belum prinsip.
PS: untuk bagya dan hendro yang akan menjajal sistem baru. kamerad, yang gua denger, menikah itu seperti pindah operating system, dari microsoft ke linux. Jangan berpikir akan bisa kembali ke Microsoft lagi. Sekalian aja ke Mac OS. cheers=)