Archive for September, 2005
di pulau
Sunday, September 18th, 2005Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
chairil anwar, 1946
corner orbit elevate
Sunday, September 11th, 2005cemas-cemas
Saturday, September 10th, 2005cemas ditinggalkan. cemas tak seksi lagi. mencemasi penuaan. cemas wajah berkerut, cemas pinggul berselulit. cemas dianggap bodoh. cemas mandeg karir. cemas cinta meluntur. cemas tak dihargai. cemas miskin. cemas kalah.
masa depan dan kecemasan selalu berjalan beriringan. tapi hampir selalu pasti kecemasan berjalan dua langkah di depan. kecemasan yang satu bisa tak dihiraukan, atau menjadi tertawaan oleh yang lain. dua orang harus berbelah jalan dan mengucapkan selamat tinggal, akibat dua kecemasan yang tak saling bersilangan.
Sebagian, terlalu sibuk menuntaskan rasa cemasnya, mencari kepastian pada setiap sudut di luar batasnya. bila cemas itu tak datang, orang itulah yang menjemputnya. sebagian lagi tak bisa berdamai dengan kenyataan, baginya hidup adalah kecemasan itu sendiri. sebagian lagi nyaman dengan sikap munafiknya. seolah kepalanya bersahabat dengan kenyataan, tapi kakinya merayap di masa lalu. baginya, pemberontakan jauh lebih mencemaskan daripada menuruti kecemasan hatinya.
ada juga yang melihat kecemasan terlalu nyata, tapi bodohnya dia diam tidak melakukan apa-apa. adakah rasa cemas itu sendiri adalah kenyataan… adakah kecemasan itu serupa godot? maka kecemasan itu tidak bercerita tentang apa-apa…


