Archive for February, 2007

Bandara Sebuah Bandar

Wednesday, February 7th, 2007

Entah sudah berapa kali kukatakan tempat ini selalu menyajikan pemandangan terindah dalam hidupku. Aku tak pernah menghindari ini, meski jarak selalu berujung kepedihan. Karena kepedihan, seperti yang kau katakan pada setiap teman baikmu, suatu saat nanti, entah kapan, entah di mana, entah bagaimana, kita akan bertemu lagi.

Semua nyanyian sedih akan terngiang di kepalamu saat sebuah perpisahan merambat namun cepat. Aku paham hasratmu terlalu mengikat, asa tak ingin terlepas.

“Pulangkah kau pekan depan?”

Kau tahu pertanyaan itu untuk diri yang gagu menjawab.

“Akankah kau di pelukku pekan depan?”

Kau tawarkan kehangatan meski kau tahu tak bakal kuputar haluan.

“Akankah kau hadir di pintuku pekan depan?”

Kau umbar harap meski tahu tak bakal menuai janji setebal kitab suci.

Aku tahu pintu itu selalu terbuka untukku. Tinggal kuketuk pintu dan kau hidangkan lagi secangkir kopi, satu kecupan selamat datang, berikut ucap lirih, “akhirnya kau pulang.”

Kopi panas itu mengendapkan asa dalam kepahitan di ujung cangkirnya yang ingin terkecup bibirku setiap pagi. Asa yang tak pernah berkenalan dengan ujung. Ujung yang hanya berupa kabar tentang kapan aku datang untuk bertemu. Pertemuan yang sesudahnya selalu saja kau ingin mengantarku, menunggu sampai burung besi yang menelanku terlepas pandang di balik layar awan. Lepas layar awan (kutahu) menggunung ungu di matamu. Ungu warna penyambut si sepi sahabat setiamu.

I’m not asking for the moon.”

Aku tahu kau tak meminta bulan. Mungkin hanya kembang gula. Mungkin kau hanya meminta bulan untuk menghadirkan kembang gula untukmu. Hingga saat ini masih terpatri segalanya waktu yang sudah-sudah saat kau temukan aku menatap padamu. Menatap dengan pandangan polos seorang anak kecil menginginkan sepotong kembang gula. Gula-gula mengembang berwujud muara untuk kata pulang.

Namun kau selalu memikirkanku, setiap detik dari hidupmu. Kau coba melupakanku dalam setiap setengah detiknya yang panjang. Bahkan ketika sebuah cinta lain menyapa dan kau coba menepis sebuah rasa untuk kebersamaan lagi. Tapi kemudian aku datang mengetuk pintumu. Dan dari balik pintu kulihat paras yang mekar karena penemuan harapan yang sempat dimatikan. Lalu, seperti biasa, kau hadiahkan aku satu kecupan selamat datang yang panjang, secangkir kopi panas, dan tak lama kemudian aku terkulai lemas berkeringat di pinggir ranjangmu bak boneka kayu.   

“Kalian perempuan tak harus selalu menunggu,” itu kukatakan padamu, mungkin belasan kesempatan lewat, ketika kau lagi-lagi mengantar aku ke sini sekaligus menjemput kepedihanmu.

Aku tahu ruang itu masih milikku, tetap akan jadi milikku. “Aku sisakan tempat itu tak tersentuh jika sewaktu-waktu kamu putuskan untuk datang lagi dan melihat pada jendelanya,” katamu.

“Kalau dia jendela dia tidak selalu harus terbuka. Kau bisa saja mengunci atau merapatkan tirainya,” kataku.

“Dia tetap jendela. Aku perlu membukanya agar tak pengap di dalam,” balasmu. “Kaulah angin itu, tak sesak udara kalau kau ada.”

Tempat ini juga sebuah jendela besar. Jendela yang mempertemukan juga memisahkan. Jendela yang dapat membawamu ke mana saja. Jendela besar yang juga sebuah layar besar yang mempertontonkan ribuan ekspresi. Ekspresi mereka yang menyusuri jembatan perpisahan. Paras-paras meratapi hari depan yang tak lagi pernah sama, karena mereka harus berjalan sendirian tanpa rasa tenang. Wajah-wajah yang bertukar janji tentang kembalinya jiwa dari pengembaraan mencari setitik nafas penghidupan. Juga mimik-mimik murung sesaat karena hati tak lagi tertambat dan bebas berlayar walau tak tentu mereka temui labuh hati yang baru. Jendela yang melepaskan aku dari sisi yang kau kehendaki. Dan kau katakan padaku kau tunggu di sini sampai terburai antariksa dibelah burung besi menuju bandar yang kutuju.

Sebuah siang yang panas dan menyengat ketika kakiku kembali menapak di tempat yang selalu kurindu ini dan dari layar teleponku terlihat pesan singkatmu hadir.

Jangan pernah datang lagi di depan pintuku. Aku tak melupakanmu. Dan tak ingin begitu. Kalau aku ingin kau pulang, maka aku yang datang. Aku tak meminta bulan: tunggu aku mengetuk pintumu.